5 Desember 2010

Prinsip Transaksi atau Jual Beli dalam Islam secara Online

Postingan hari ini saya berbagi mengenai tugas yang harus saya kerjakan :), sesuai dengan mata kuliah Ekonomi Syariah yang saya kontrak. Semoga bermanfaat.
Di dalam islam segala cara diperbolehkan untuk bermuamallah atau beribadah secara horizontal, seperti transaksi, investasi, simpanan dan hal lainnya, tetapi yang tidak boleh dilakukan itu adalah yang dilarang oleh Allah, sesuai dengan firman-firmanNya dalam Al-qur’an, berbeda dengan beribadah secara vertical, yang wajib dilakukan hanyalah yang diperintahkanNya, tidak boleh menambah-nambahkan mapun mengurangi.
Islam pun menganjurkan umatnya untuk bertransaksi, sesuai dengan firman Allah dalam Al-qur’an surat Al Baqarah ayat 275:
šúïÏ%©!$# tbqè=à2ù'tƒ (#4qt/Ìh9$# Ÿw tbqãBqà)tƒ žwÎ) $yJx. ãPqà)tƒ Ï%©!$# çmäܬ6ytFtƒ ß`»sÜø¤±9$# z`ÏB Äb§yJø9$# 4 y7Ï9ºsŒ öNßg¯Rr'Î/ (#þqä9$s% $yJ¯RÎ) ßìøt7ø9$# ã@÷WÏB (#4qt/Ìh9$# 3 ¨@ymr&ur ª!$# yìøt7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# 4 `yJsù ¼çnuä!%y` ×psàÏãöqtB `ÏiB ¾ÏmÎn/§ 4ygtFR$$sù ¼ã&s#sù $tB y#n=y ÿ¼çnãøBr&ur n<Î) «!$# ( ïÆtBur yŠ$tã y7Í´¯»s9'ré'sù Ü=»ysô¹r& Í$¨Z9$# ( öNèd $pkŽÏù šcrà$Î#»yz ÇËÐÎÈ
Artinya:
275.     Orang-orang yang makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu[176] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

[174]  Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya Karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. riba yang dimaksud dalam ayat Ini riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman Jahiliyah.
[175] Maksudnya: orang yang mengambil riba tidak tenteram jiwanya seperti orang kemasukan syaitan.
[176]  Riba yang sudah diambil (dipungut) sebelum turun ayat ini, boleh tidak dikembalikan.
Dari ayat di atas, jelas bahwa Islam mengharapkan para umatnya untuk melakukan kegiatan ekonomi, dalam hal ini jual-beli, untuk mencapai kebutuhannya serta kemaslahatan untuk bersama. Yang dimaksud prinsip dalam Islam adalah, segala ketentuan, aturan, hokum yang diperbolehkan ataupun dilarang dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan Al-qur’an dan Al-hadist.

Contohnya adalah bisnis Online, Kalau bicara tentang bisnis online, banyak sekali macam dan jenisnya. Namun demikian secara garis besar bisa di artikan sebagai jual beli barang dan jasa melalui media elektronik, khususnya melalui internet atau secara online. Tetapi secara garis besar, bisnis online ini mempunyai beberapa ciri yang dihalalkan dalam islam, berikut cirinya:
1.      Terjadinya transaksi antara dua belah pihak
2.      Adanya pertukaran barang, jasa, atau informasi
3.      Internet merupakan media utama dalam proses atau mekanisme akad tersebut
4.      Adanya ridho dan ikhlas antara penjual dan pembeli
5.      Saling membutuhkan
Diperkuat lagi dengan Rukun-rukun jual beli menurut jumhur ulama :
·         Ada penjual.
·         Ada pembeli.
·         Ijab Kabul.
·         Barang yang diakadkan. (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz V hal 3309)
Syarat-syarat sah jual beli itu adalah :
1.      Syarat-syarat pelaku akad : bagi pelaku akad disyaratkan, berakal dan memiliki kemampuan memilih. Jadi orang gila, orang mabuk, dan anak kecil (yang belum bisa membedakan) tidak bisa dinyatakan sah.
2.      Syarat-syarat barang yang diakadkan :
·       Suci (halal dan baik).
·       Bermafaat.
·       Milik orang yang melakukan akad.
·       Mampu diserahkan oleh pelaku akad.
·       Mengetahui status barang (kualitas, kuantitas, jenis dan lain-lain)
·       Barang tersebut dapat diterima oleh pihak yang melakukan akad. (Fiqih Sunnah juz III hal 123)
Hal yang perlu juga diperhatikan oleh konsumen dalam bertransaksi adalah memastikan bahwa barang/jasa yang akan dibelinya sesuai dengan yang disifatkan oleh si penjual sehingga tidak menimbulkan perselisihan di kemudian hari.
kesimpulannya, baik transaksi di darat atau udara (online) halal hukumnya asalkan tidak keluar dari prinsip-prinsip islam.
Posting Komentar