11 April 2011

Hak Milik (Materi Kuliah Ekonomi Syariah)

Setiap manusia mempunyai kebutuhan sehingga sering terjadi pertentangan-pertentangan kehendak. Untuk menjaga keperluan masing-masing, perlu ada aturan-aturan yang mengatur kebutuhan manusia agar manusia itu tidak melanggar dan memperkosa hak-hak orang lain. Maka, timbullah hak dan kewajiban di anatara sesema manusia.
Menurut pengertian umum, hak ialah suatu ketentuan yang digunakan oleh syara’ untuk menetapkan suatu kekuasaan atau suatu beban hokum.
Milik dalam buku pokok pokok fiqh Muamalah dan Hukum Kebendaan dalam Islam, didefinisikan sebagai kekhususan terdapat pemilik suatu barang menurut syara’ untuk bertindak secara bebas bertujuan mengambil manfaatnya selama tidak ada penghalang syar’i.
Dalam pengertian umum, hak dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu mal dang hair mal. Hak mal ialah sesuatu yang berpautan dengan harta, seperti pemilikan benda-benda atau utang-utang.
Hak ghair mal terbagi kepada dua bagian, yaitu hak syakhshi dan hak ‘aini. Hak syakhshi ialah suatu tuntutan yang ditetapkan syara’ dari seseorang terhadap orang lain. Hak ‘aini ialah hak orang dewasa dengan bendanya tanpa dibutuhkan orang kedua.
Faktor-faktor yang menyebabkan harta dapat dimiliki antara lain:
a.    Ikraj al Mubahar, untuk harta yang mubah (belum dimiliki oleh seseorang)
Ada dua syarat untuk memiliki benda tersebut:
n  Benda mubahat belum diikhrazkan oleh orang lain.
n  Adanya niat (maksud) memiliki.
b.    Khalafiyah, ialah bertempatnya sesorang atau sesuatu yang baru bertempat di tempat yang lama, yang telah hilang berbagai macam haknya.
Khalafiyah ada dua macam, yaitu:
n  Khalafiyah syakshy ‘an syakshy, yaitu si waris menempati tempat muwaris dalam memiliki harta-harta yang ditinggalkan oleh muwaris (tirkah)
n  Khalafiyah syai’an syai’in, yaitu apabila seseorang merugikan milik orang lain atau menyerobot barang orang lain, kemudian rusak ditangannya atau hilang, maka wajiblah dibayar harganya dan diganti kerugian-kerugian pemilik harta.
c.    Tawallud min Mamluk yaitu segala yang terjadi dari benda yang telah dimiliki, menjadi hak bagi yang memiliki benda tersebut.
Sebab pemilikan tawallu min mamluk dibagi kepada dua pandangan:
n  Mengingat ada dan tidak adanya ikhtiar terhadap hasil-hasil yang dimiliki.
n  Pandangan terhadap bekasnya.
d.    Karena penguasaan terhadap milik Negara atas pribadi yang sudah lebih dari tiga tahun.
Milik yang dibahas dalam fiqg muamalah secara garis besar dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1.      Milik tam, yaitu suatu pemilikan yang meliputi benda dan manfaatnya sekaligus, artinya bentuk benda dan kegunannya dapat dikuasi.
2.      Milik naqishah, yaitu bila seseorang hanya memiliki salah satu dari benda tersebut, memiliki benda tanpa memiliki manfaatnya atau memiliki manfaatnya saja tanpa memiliki zatnya.
Dilihat dari segi mahal (tempat), milik dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1.      Mikal’ain, yaitu memiliki semua benda, baik benda tetap maupun benda-benda yang dapat dipindahkan seperti pemilikan terhadap rumah, mobil dan motor.
2.      Milk al-manfaah, yaitu seseorang yang hanya memiliki manfaatnya saja dari suatu benda, seperti benda hasil meminjam, wakaf dan lainnya.
3.      Milk al-dayn yaitu pemilikan karena adanya utang, misalnya sejumlah uang dipinjamkan kepada seseorang atau pengganti benda yang dirusakkan.
Dari segi shurah (cara berpautan milik dengan yang dimiliki), dibagi 2 bagian:
1.      Milk al-mutamayyiz ialah sesuatu yang berpautan dengan yang lain, yang memiliki batasan-batasan, yang dapat memisahkannya dari yang lain.
2.      Milk al-syai’ atau milk al-musya, ialah milik yang berpautan dengan sesuatu yang nisbi dari kumpulan sesuatu, betapa besar atau betapa kecilnya kumpulan itu.
Posting Komentar