10 April 2011

Keduduakn dan Fungsi Harta (Materi Kuliah Ekonomi Syariah)

Harta dalam bahasa Arab disebut al mal yang berarti condong, cenderung dan miring. Sedangkan harta menurut istilah Imam Hanafiyah ialah “Sesuatu yang digandrungi tabuat manusia dan memungkinkan untuk disimpan hingga dibutuhkan”.
Hanafiyah ,menyatakan bahwa harta adalah sesuatu yang berwujud dan dapat disimpan sehingga sesuatu yang tidak berwujud dan tidak dapat disimpan tidak termasuk harta, seperti hak dan manfaat.
Menurut para Fuqaha, harta bersendi pada dua unsur yaitu:
1.   Unsur ‘aniyah ialah bahwa harta itu ada wujudnya dalam kenyataan.
2.   Unsur ‘urf ialah segala sesuatu yang dipandang harta oleh seluruh manusia atau sebagian manusia, tidaklah manusia memelihara sesuatu kecuali menginginkan manfaatnya, baik manfaat madiyah maupun manfaat ma’nawiyah. 
Dalam Alquran surat Al-kahfi:46 dijelaskan bahwa harta merupakan perhiasan hidup.
Karena harta sebagai titipan, manusia tidak memiliki harta secara mutlak sehingga dalam pandangan tentang harta, terdapat hak-hak orang lain, seperti zakat harta dan lainnya. Kedudukan harta selanjutnya adalah sebagai musuh, sebagaimana yang dinyatakan dalam surat Al-Taghabun:14. 
1.    Mal Mutaqawwin dan Ghair mutaqawwin
a.    Harta Mutaqawwin ialah sesuatu yang boleh diambil manfaatnya menurut syara.
b.    Harta Ghair Mutaqawwin ialah sesuatu yang tidak boleh diambil manfaatnya menurut syara.
2.    Mal Mitsli dan Mal Qimi
a.    Harta Mitsli ialah benda-benda yang ada persamaan dalam kesatuan-kesatuannya, dalam arti dapat berdiri sebagiannya di tempat yang lain, tanpa ada perbedaan yang perlu dinilai.
b.    Harta Qimi ialah benda-benda yang kurang dalam kesatuan-kesatuannya, karenanya tidak dapat berdiri sebagian di tempat sebagian yang lainnya tanpa ada perbedaan.
3.    Harta Istihlak dan Harta Isti’mal
a.    Harta Istihlak ialah sesuatu yang tidak dapat diambil kegunaan dan manfaatnya secara biasa, kecuali dengan menghabiskannya.
b.    Harta Isti’mal ialah sesuatu yang dapat digunakan berulang kali dan materinya tetap terpelihara.
4.    Harta Manqul dan Harta Ghair Manqul
a.    Harta Manqul ialah segala harta yang dapat dipindahkan 9bergerak) dari satu tempat ke tempat lain.
b.    Harta Ghair manqul ialah sesuatu yang tidak bias dipindahkan dan dibawa dari satu tempat ke tempat lain.
5.    Harta ‘Ain dan Harta Dayn
a.    Harta ‘Ain ialah harta yang berbentuk benda, seperti rumah, pakaian, beras, jambu, kendaraan dan yang lainnya
b.    Harta Dayn ialah sesuatu yang berada dalam tanggung jawab. 
6.    Mal al-‘ain dan mal-naf’i
a.    Harta ‘aini ialah benda yang memiliki nilai dan berbentuk (berwujud), rumah, ternak dan lainnya.
b.    Harta Nafi’ ialah a’radl yang berangsur-angsur tumbuh menurut perkembangan masa, oleh karena itu mal al-naf’I tidak berwujud dan tidak mungkin disimpan.
7.    Harta Mamluk, Mubah dan Mahjur
a.    Harta Mamluk ialah sesuatu yang masuk ke bawah milik, milik perorangan maupun milik badan hokum, seperti pemerintahan dan yayasan.
b.    Harta Mubah ialah sesuatu yang pada asalnya bukan milik seseorang, seperti air pada mata air, binatang buruan darat, laut, pepohonan dan lainnya.
8.    Harta yang dapat dibagi dan tidak dapat dibagi
a.    Harta yang dapa dibagi ialah harta yang tidak menimbulkan sesuatu kerugian atau kerusakan apabila harta itu dibagi-bagi, misalnya beras, tepung dan lainnya.
b.    Harta yang tidak dapat dibagi ialah harta yang menimbulkan suatu kerugian atau kerusakan apabila harta tersebut dibagi-bagi.
9.    Harta pokok dan Harta Hasil
a.    Harta pokok ialah harta yang mungkin darinya terjadi harta yang lain.
b.    Harta hasil ialah harta yang terjadi dari harta yang lain.
10.  Harta khas dan Harta ‘am
a.    Harta khas ialah harta pribadi, tidak bersekutu dengan yang lain, tidak boleh diambil manfaatnya tanpa disetujui pemiliknya.
b.    Harta ‘am ialah harta milik umum (bersama) yang boleh diambil manfaatnya. 
Diantara sekian banyak fungsi harta antara lain sebagai berikut:
a.    Berfungsi untuk menyempurnakan pelaksanaan ibadah yang khas.
b.    Untuk meningkatkan keimanan kepada Allah SWT.
c.    Utuk meneruskan kehidupan dari satu periode ke periode lainnya.
d.    Untuk menyelaraskan (menyeimbangkan) antara kehidupan dunia dan akhirat. 
e.    Untuk mengembangkan dan menegakan ilmu-ilmu.
f.     Untuk memutarkan peranan-peranan kehidupan yakni adanya pembantu atau tuan.
g.    Untuk menumbuhkan silaturrahim
Posting Komentar