16 April 2011

Perdagangan atau Jual Beli (Materi Kuliah Ekonomi Syariah)

Menurut bahasa jual beli berarti al-Bai’, al-Tijarah dan al-Mubadalah.
Menurut istilah (termilnologi) yang dimaksud dengan jual beli adalah:
a.    Menukar barang dengan barang atau dengan uang dengan jalan melepaskan hak milik dari yang satu kepada yang lain atas dasar saling merelakan.
b.    Pemilikan harta benda dengan jalan tukar-menukar yang sesuai dengan syara’
c.    Saling tukar harta, saling menerima, dapat dikelola (tasharruf) dengan ijab dan qabul, dengan cara yang sesuai dengan syara’.
d.    Tukar menukar benda dengan benda lain dengan cara yang diperbolehkan.
e.    Penukaran benda dengan benda lain dengan jalan saling merelakan atau memindahkan hak milik dengan ada penggantinya dengan cara yang diperbolehkan.
f.     Aqad yang tegak atas dasar penukaran harta dengan harta, maka jadilah penukaran hak milik secara tetap.
Rukun jual beli ada tiga, yaitu:
1.    Akad (Ijab Qabul)
2.    Orang-orang yang berakad (penjual dan pembeli)
3.    Ma’kud alaih (objek akad)
Syarat-syarat sah ijab Kabul ialah sebagai berikut:
1.      Jangan ada yang memisahkan, pembeli jangan diam saja setelah penjual menyatakan ijab dan sebaliknya.
2.      Jangan diselingi dengan kata-kata lain antara ijab dan Kabul
3.      Beragama islam, syarat ini khusus untuk pembeli saja dalam benda-benda tertentu.
Dari segi hukumnya, jual beli ada dua macam, jual beli yang sah dan batal menurut hokum. Ditinjau dari segi benda yang dijadikan objek jual beli dapat dikemukakan pendapat Imam Taqiyuddin bahwa jual beli dibagi menjadi tiga bentuk:
1.    Jual beli yang kelihatan
2.    Jual beli yang disebutkan sifat-sifatnya dalam janji
3.    Jual beli benda yang tidak ada
Ditinjau dari segi pealaku akad (subjek), jual beli terbagi menjadi tiga bagian, dengan lisan, dengan perantara dan dengan perbuatan. Ada jual beli yang dilarang oleh agama dan dianjurkan oleh agama.
Khiar dibagi menjadi tiga macam:
1.    Khiar majelis, artinya penjual dan pembeli boleh memilih akan melanjutkan jual beli atau membatalkannya. Selama keduanya masih ada dalam satu tempat.
2.    Khiar Syarat, yaitu penjualan yang di dalamnya disyaratkan sesuatu baik oleh penjual maupun oleh pembeli.
3.    Khiar ‘aib, artinya dalam jual beli ini disyaratkan kesempurnaan benda-benda yang dibeli.
Bila antara penjual dan pembeli berselisih pendapat dalam suatu benda yang diperjualbelikan, maka yang dibenarkan ialah kata-kata yang punya barang, bila antara mereka tidak ada saksi dan bukti lainnya.
Badan perantara dalam jual beli disebut pula simsar, yaitu seseorang yang menjualkan barang orang lain atas dasar bahwa seseorang itu akan diberi upah oleh yang punya barang sesuai dengan usahanya.
Penjualan dengan cara lelang disebut muzayadah. Penjualan seperti ini diperbolehkan oleh agama islam karena dijelaskan dalam satu keterangan.
 Bila seseorang menjual sebidang tanah atau lapangan, sedangkan di dalamnya terdapat pohon-pohon, rumah-rumah dan yang lainnya, menurut Mazhab Syafi’I semua bangunan dan pohon-pohonnya yang berada di atas tanah tersebut ikut terjual, tetapi tidak termasuk di dalamnya barang-barang yang dapat diambil sekaligus.
Bila yang dijual itu pohon-pohon yang sedang berbuah, buahnya merupakan milik penjual, kecuali pembeli mensyaratkan agar buah-buahnya itu untuk dia.
Buah-buahan yang sudah dijual kemudian rusak atau hilang dan yang lainnya, maka kerusakan itu tanggungan penjual, bukan tanggungan pembeli. Hal ini disabdakan oleh Rasulullah SAW.
Posting Komentar