17 April 2011

Pinjaman atau ‘Ariyah (Materi Kuliah Ekonomi Syariah)

Pinjaman atau ‘ariyah menurut bahasa ialah pinjaman, sedangkan menurut istilah, ‘ariyah ada beberpa pendapat, diantaranya:
1.      Menurut Hanafiyah ialah memilikikan manfaat secara Cuma-Cuma
2.      Menurut Malikiyah ialah memilikan manfaat dalam waktu tertentu dengan tanpa imbalan
3.      Menurut syafi’iyah ialah kebolehan mengambil manfaat dari seseorang yang membesarkannya, apa yang mungkin untuk dimanfaatkan, serta tetap zat barangnya supaya dapat dikembalikan kepada pemiliknya.
4.      Menurut Hanabilah ialah kebolehan memanfaatkan suatu zat barang tanpa imbalan dari peminjam atau yang lainnya. Dll.
Menurut sayyid Sabiq, tolong menolong (‘ariyah) adalah sunnah. Sedangkan menurut al-Ruyani, hukumnya wajib ketika awal Islam. Adapun landasan hukumnya dari nash Alquran dalam surat Al-Maidah:2.
Menurut Hanafiyah, rukun ‘ariyah adalah satu, yaitu ijab dan kabul, tidak wajib diucapkan, tetapi cukup dengan menyerahkan pemilik kepada peminjam barang yang dipinjam dan boleh hokum ijab Kabul dengan ucapan.
Menurut Syafi’iyah, rukun ‘ariyah adalah sebagai berikut:
1.      Kalimat mengutangkan (lafazh)
2.      Mu’ir yaitu orang yang mengutangkan dan musta’ir yaitu orang yang menerima utang.
3.      Benda yang diutangkan.
Setiap orang yang meminjam sesuatu kepada orang lain berarti peminjam memiliki utang kepada yang berpiutang. Setiap utang wajib dibayar sehingga berdosalah orang yang tidak mau membayar utang, bahkan melalaikan pembayarn utang juga termasuk aniaya.
Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa peminjam boleh meminjamkan benda-benda pinjaman kepada orang lain. Sekalipun pemiliknya belum mengizinkannya jika penggunaannya untuk hal-hal yang tidak berlainan dengan tujuan pemakaian pinjaman.
Bila peminjam telah memegang barang-barang pinjaman, kemudian barang tersebut rusak, ia berkewajiban menjaminnya, baik karena pemaikaian yang berlebihan maupun karena yang lainnya


a.      Utang-piutang supaya dikuatkan dengan tulisan dari pihak berutang dengan tulisan dari pihak berutang dengan disaksikan dua orang saksi laki-laki atau dengan seorang saksi laki-laki dengan dua orang saksi wanita.
b.      Pinjaman hendaknya dilakukan atas dasar adanya kebutuhan yang mendesak disertai niat dalam hati akan membayarnya.
c.      Pihak berpiutang hendaknya berniat memberikan pertolongan kepada pihak berutang.
d.      Hendaknya dipercepat dalam membayar utang apabila telah tersedia.
Posting Komentar