23 Januari 2015

Pelajaran Hidup, Hal Kecil dari Satu Bungkus Kopi

Assalamualaikum wrwb.
Malam tadi saya baru sadar, sebuah pelajaran hidup, suatu contoh kecil dari Bapak saya. Bijaksana sekali mengajarkan kehidupan.
Dengan berjalannya waktu, pelajaran hidup yang orang tua ajarkan disampaikan dengan cara berbeda. Dulu, waktu kita kecil, mereka sering menyampaikannya lewat lisan, seperti : "nak, rajinlah belajar kalau ingin pintar"; atau "nak, kalau ingin sesuatu, menabung dulu, sisanya yang kurang nanti bapak/ibu tambah". Seperti itulah kira-kira.
Tapi sekarang, dengan umur 20 tahun plus, hehe. Saya paham mengapa mereka gak seperti itu lagi, karena kalau lewat lisan, gak akan mempan, umur segitu udah punya pola pikir sendiri, maka yang paling tepat itu lewat contoh, dan perlakuan.
Saya dan bapak sama-sama suka kopi, hampir setiap hari meminum kopi. Dan biasanya didapur selalu tersedia stock kopi seduh, kopi instan yang disediakan bapak. Saya pun sama, biasa menstock sendiri kopi seduh yang disimpan ditempat berbeda, di meja belajar di kamar saya hehe.
Kalau saya kehabisan stock kopi, biasanya sih ngambil stock kopi yang didapur, milik si bapak, meski kalau seandainya cuma satu lagi, ah ambil aja, gak peduli. Padahal saya tau itu kopi milik bapak, bapak juga tau yang ngambil siapa, sudah pasti saya anak satu-satunya yg masih serumah. Ketika dia tau kopi miliknya habis, dan stock penghabisan diambil saya, gak pernah sedikitpun dia marah, dia lantas pergi kewarung, untuk beli kopi, kalau belum maghrib. Saya juga tau hal itu, sampe saat itu sih saya cuek-cuek aja. Karena udah biasa kali yee.
Tapi malam ini, bener-bener tersadar, selama ini saya sudah dzalim pada si bapak. Dengan satu contoh kecilnya, yang kurang ajarnya lagi nih si saya, baru sadar sekarang. :-(
Saya selalu tau, tapi gak pernah sadar, kalau bapak saya kehabisan kopi, dan itu dimalam hari, dimana gak mungkin dia pergi ke luar rumah ke warung buat beli kopi, dia gak pernah sekalipun mengambil kopi saya, yang selalu saya simpan di meja di kamar, tanpa IZIN meskipun kalau saya gak ada. Bahkan sering saya pulang malam selepas kerja, dan sudah past sesampai dirumahpun malam, kopi saya gak pernah dia ambil kalau saya gak belum pulang, sekalipun dia pengen. Yang terakhir tadi malam, sesampainya dirumah, lantas saya ke kamar, si bapak masuk izin ke kamar, dengan nada lirih : "A, gaduh kopi?" (A punya kopi?) "Aya pah, diluhur meja" (Ada pah, diatas meja). jawab saya santai sambil main hape. 'Sungkeunnya, titadi ngaantosan aa, hoyong kopi, nu papah seep" (minta yah, dari tadi nunggu aa, kopi papah habis). Lanjut si bapak sebari senyun malu. Masya Allah, whats? Kaget, nunggu cuma buat izin.? Dzalim sekali sebagai anak. Astagfirllah. Kaget, segitunya kah?
"Maafkan anakmu ini, yang dzalim pah". :-(
Semenjak kejadian itu, saya tetap suka kopi, ya tetep suka, tapi berniat untuk gak ngambil tanpa izin barang yang jadi milik orang tua lagi, minimal kopi seduh. Hehe. Kan yang penting niatnya, niatkan pondasi.
Itulah kasih sayang orang tua, mengajarkan kebaikan, pendidikan sepanjang hayat. 
Terenyuh dalam hati, kalau ada yang nanya, siapa lelaki yang terbaik dihidup saya, ya Bapak jawabannya. Tau cara menjadi teladan seorang imam rumah tangga. Anda gak tau bapak saya? Ya bae, lelaki harus jadi terbaik, minimal dimata anaknya atau istrinya.
Sekian, wassalamualaikum wrwb.
Posting Komentar