1 Juli 2015

Menyambangi Kabupaten Paling Selatan Indonesia, Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao, NTT.

Alhamdulillah, puji syukur hanya kepada Allah, atas nikmatnya. Terutama nikmat akan iman dan islam. Saya ingin bercerita, tepatnya menuliskan sedikit pengalaman saya selama di Pulau Rote. Alhamdulillah, Saya dipercaya untuk melakukan survei pendahuluan pada studi RIP Pelabuhan di Rote Ndao oleh kantor saya. Saya ditemani oleh Bu Nita, rekan kerja yang menikah dengan orang Surabaya, mas Seno.
Saya berangkat dari Bandung ke Surabaya, yang kemudian bareng menuju Kupang dengan Bu Nita dari Surabaya. Singkat cerita kami tiba juga di Bandara El Tari, Kupang. Langsung mencari tempat istirahat, waktu itu menunjukkan pukul 14.30 wita. Dan kami memutuskan untuk beristirahat di Hotel Aston. Karena memang tidak ada pilihan lain, selain hotel lain penuh, kami juga ingin menikmati pemandangan pantai utara kupang.
Perjalanan dari hotel aston ke terminal penumpang pelabuhan Tenau, memakan waktu 30 menit dengan menggunakan jasa taksi hotel. Dari sini kami berencana untuk ke pulau Rote dengan kapal cepat.
Sampai di pelabuhan pukul 06.30, wah ternyata kami kepagian. Cuma ada 2 orang di dekat tempat loket. Baru pukul 07.30 mulai ramai berdatangan orang-orang yang sama mau ke pulau rote.
Tepat pukul 07.45, loket dibuka dan langsung berebut untuk membeli tiket, saling berdesakan. Saya pun gak mau kalah, ikut berdesakan, karena kalau sampai gak dapet tiket, harus nunggu lagi besoknya. Kan males, hehe. Perlu diketahui, untuk ke pulau Rote, ada 3 alternatif perjalanan. 
  1. Melalui kapal laut cepat, yang berangkat dari Pelabuhan Tenau, berangkat pukul 07.30; 
  2. Melalui kapal ferry di pelabuhan Bolok. Dengan jadwal yang sama, tujuan kapal ini ke pelabuhan pantai baru di Rote; 
  3. Melalui pesawat udara, yang saat itu hanya ada satu maskapai, yaitu lion group tepatnya wings air, yang frekuensinya hanya 3 kali seminggu, selasa, kamis dan sabtu. Namun untuk alternatif ini cukup sulit mendapatkan tiket, harus jauh-jauh hari sebelumnya.
Untuk ke Pulau Rote atau sebaliknya menuju Kupang, cuaca sangat menentukkan. Terkadang ketika angin Barat, kapal cepat bisa tidak beroperasi sampai 3 bulan.
Akhirnya naik kapal laut lagi, hehe. Jujur terakhir naik kapal waktu berumur 10 tahun, dari Merak ke Bakauhuni. Dan alhasil mabok laut :D. Naij kapal cepat ke Rote cukup menegangkan, menurut informasi diantara selat Kupang dan Rote ini terkenal dengan ganasnya. Terkadang jadwal dibatalkan karena cuaca yang ekstrim. Saya pun merasakan guncangan kapal yang cukup membuat dagdigdug. Hehe. Tapi Alhamdulillah sampai tujuan dengan selamat.
Bahari Express - Pelabuhan Tenau

Pintu Masuk Terminal Penumpang - Pelabuhan Tenau

Tarif Pas Terminal Penumpang - Pelabuhan Tenau

Singkat cerita sampai juga di pelabuhan Baa, Rote. Salah satu pelabuhan yang menjadi target survei kebetulan.
Jam 10.30 kami sampai di pelabuhan Baa. Setelah selesai dengan berbagai kegiatan pekerjaan, kami melanjutkan perjalanan ke lokasi kedua, yaitu pelabuhan Papela. Diperjalanan saya sangat takjub. Oh Indonesia ini betul betul indah. Pantai yang luas, hijau dan membiru airnya. Bahasa yang beragam. Jalan arteri di Rote bisa dibilang kurang memadai, hanya dengan lebar 4 meter. Namun kondisi jalan sangat bagus. Jarang berlobang.
 
Papan KUPP Pelabuhan Baa


Kegiatan Bongkar Semen di Pelabuhan Baa

Gangway Penumpang Pelabuhaan Baa

Dermaga yang rusak karena Gelombang Besar

Pukul 12.30 kami sampai di pelabuhan papela. Airnya hijau dan kebiruan, namun disayangkan disekitar pelabuhan banyak sampah, seperti yang tidak terurus. 30 menit lamanya kami berada disini. Dilanjut perjalanan menuju pelabuhan Batutua. Yaitu sebelah selatan pulau rote, yang langsung menghadap samudera. Dsini pelabuhan masih dalam tahap pengembangan, belum ada dermaga. Anginnya kencang sekali, bertepatan dengan musim angin timur.
Dermaga Pelabuhan Papela

Dermaga Pelabuhan Papela

Dermaga Pelabuhan Papela
 
Causeway Pelabuhan Batutua


Trestle dan Pancang Pelabuhan Batutua

Tihang Pancang Pelabuhan Batutua

Pukul 16.00 kami melanjutkan perjalanan ke Baa, untuk mencari penginapan. Karena dalam keadaan sedang berpuasa cukup menguras tenaga dan cape rasanya. Kami menemukan penginapan sekitar dekat pelabuhan Baa, lupa namanya apa. Harga perkamarnya 175 ribu, toilet didalam. Kamipun beristirahat menunggu adzan maghrib. Insya Allah besok dilanjut, untuk mengelilingi dan menikmati tempat wisata di pulau Rote ini. Menurut informasi masyarakat sekitar, wisatawan asing ke pulau Rote untuk mengunjungi pantai Nemberala. Insya Allah ingin kesana. Sudah ngantuk, Insya Allah dilanjut kalau ingin. Hehe.
Posting Komentar